Sejarah Kota Tua Selat Panjang Daerah Kab. Kepulauan Meranti
"KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI (RIAU)"
Kota Selatpanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Meranti, duhulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak. Bandar ini sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa, karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan sebaliknya.
BANGUNAN TUA KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI (RIAU)

1376881159540703076
Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah tebing yang tinggi. “Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan Syarif Ali,” pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi salam. “Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den,” katanya. Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai Selatpanjang ). Sambil berkata, “Dengarkanlah
oleh kamu sekalian di tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik
didirikan sebuah negeri. Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan
makmur apabila pemimpin dan penduduknya adil dan bekerja keras serta
menaati hukum-hukum Allah.” Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan, laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. “Den
bernama Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri
Indrapura. Keris den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang
den sosok ini den namakanNegeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi.”itulah nama asal muasal kota selatpanjang.
Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana
panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat
Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa
pulau. Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan
sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi,seiring perkembangan
waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar
perniagaan di kesultanan siak.
Ramai
interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan
pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama
negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu
Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun
1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung Marhum Buntut
(Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak). Pada masa
pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak
Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai
perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda
mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899, Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang.J.M.
Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi mangkat pada tahun 1908. Seiring
waktu masa diawal Pemerintahan Republik Indonesia, kota selatpanjang dan
sekitarnya ini merupakan Wilayah Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis
yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Tebingtinggi.Pada
tanggal 19 Desember 2008,daerah selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota Selatpanjang.
"TAMAN CIK PUAN"]

"TELAGA BENING,KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI"]

Taman Cikpuan dan Kolam
Telaga Bening di tengah kota Selat Panjang, punya nilai sejarah. Ditaman
Cikpuan ini banyak peristiwa terjadi dan bernilai Sejarah, sejak dari
yang sederhana seperti tempat menampilkan pentas seni sampai peristiwa
politik yang heroik juga selalu berlangsung disini. Pemekaran Kabupaten
Kepulauan Meranti lepas dari induk Kabupaten Bengkalis beberapa agenda
yang melibatkan massa yang besar berlangsung di arena ini, Taman Cikpuan
menjadi saksi sejarah. Disamping itu, Kolam Telaga Bening di jalan
Merdeka tidak jauh dari Cikpuan Park adalah penopang air untuk
masyarakat Selat Panjang, jika musim kemarau tiba kolam ini menjadi
tumpuan untuk mendapatkan air buat mandi dan Cuci bahkan untuk minum.
Harapan
kedepan,objek wisata yang ada dikabupaten kepulauan meranti terus di
perhatikan,dan masyarakat bisa menjaga dan melestarikan dengan baik.
SEJARAH KOTA
SELATPANJANG KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
Ainun Syarifatul Alfiah/SR
ASAL MULA KOTA SELATPANJANG
Daerah Selatpanjang dan sekitarnya sebelumnya merupakan wilayah
kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan salah satu
kesultanan terbesar di Riau saat itu.Pada masa pemerintahan Sultan Siak
VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (
yang bertahta tahun 1784 - 1810 ), biasa disapa Sultan Syarif Ali,
memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha untuk
mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain tertarik
pada pulau itu juga karena Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil
Syaifuddin Baalawi sendiri pernah singgah ke daerah itu, tujuan utama
Sultan Syarif Ali ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas (
Kalimantan Barat ) yang terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah
khianati perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Siak. Negeri atau
Bandar ini nantinya sebagai ujung tombak pertahanan ketiga setelah
Bukit Batu dan Merbau'' untuk menghadang penjajah dan lanun.
Maka bergeraklah armadanya dibawah pimpinan Panglima Besar Muda Tengku
Bagus Saiyid Thoha pada awal Muharram tahun 1805 Masehi diiringi
beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju
Pulau Tebing Tinggi. Mereka tiba di tebing Hutan Alai( sekarang Ibukota
Kecamatan Tebingtinggi Barat ).
Panglima itu segera menghujam kerisnya memberi salam pada Tanah
Alai.Tanah Alai tak menjawab, Ia meraup tanah sekepal, terasa panas. Ia
melepasnya, "Menurut sepanjang pengetahuan den, tanah Alai ini tidak
baik dibuat sebuah negeri karena tanah Hutan Alai adalah tanah jantan,
Baru bisa berkembang menjadi sebuah negeri dalam masa waktu yang lama,"
kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.
Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah
tebing yang tinggi. "Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan
Syarif Ali," pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan
tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan
mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi
salam. "Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den," katanya.
Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas
tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai
Selatpanjang ). Sambil berkata, "Dengarkanlah oleh kamu sekalian di
tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik didirikan sebuah negeri.
Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin
dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum
Allah."Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan,
laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. "Den bernama
Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri Indrapura. Keris
den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang den sosok ini den
namakan Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi."itulah nama asal
muasal kota selatpanjang.
Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana
panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat
Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa
pulau. Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan
sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi, seiring perkembangan
waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar
perniagaan di kesultanan siak.
Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan
pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama
negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu
Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun
1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung
Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak).
Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak
Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai
perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda
mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899,
Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar
Tebingtinggi Selatpanjang.J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi
mangkat pada tahun 1908. Seiring waktu masa diawal Pemerintahan Republik
Indonesia, kota selatpanjang dan sekitarnya ini merupakan Wilayah
Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status
menjadi Kecamatan Tebingtinggi. Pada tanggal 19 Desember 2008, daerah
Selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan
Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota
Selatpanjang.[1]
Kota SelatPanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan
Meranti, dahulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan
terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak.Bandar ini sejak dahulu
telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa,
karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan
kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian
antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan
dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan
sebaliknya.Selatpanjang juga merupakan kota yang menjadi transit
transportasi laut dari Pekanbaru menuju Pulau Batam atau Tanjung Balai
Karimun dan sebaliknya. selatpanjang juga merupakan kota penghasil sagu
yang cukup besar. Kabupaten Kepulauan Meranti adalah salah satu
kabupaten di provinsi Riau, Indonesia, dengan ibu kotanya adalah
Selatpanjang.
Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari Pulau Tebing Tinggi, Pulau
Padang, Pulau Merbau, Pulau Ransang, Pulau Topang, Pulau Manggung, Pulau
Panjang, Pulau Jadi, Pulau Setahun, Pulau Tiga, Pulau Baru, Pulau
Paning, Pulau Dedap,Pulau Berembang, Pulau Burung.Adapun nama Meranti
diambil dari nama gabungan "Pulau Merbau, Pulau Ransang dan Pulau
Tebingtinggi".[2]
NILAI BUDAYA
1. Pagelaran Seni Melayu Tari Zapin
Zapin merupakan hasanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dari
Arab. Tari Zapin pada mulanya merupakan tarian hiburan dikalangan
raja-raja di istana setelah dibawa oleh para pedagang-pedagang di awal
abad ke-16.Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus
menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair
lagu-lagu zapin yang didendangkan. Musik pengiringnya terdiri dari dua
alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik
tabuh gendang kecil yang disebut marwas.Tarian ini biasa ditarikan oleh
penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.
Pagelaran Seni ini biasa dilakukan pada hari hari tertentu yang dianggap
penting oleh masyarakat Selatpanjang seperti hari hari besar keagaamaan
ataupun dalam acara pernikahan.
2. Fiesta Bokor Riviera
Suatu Even untuk memperkuat tali Persaudaraan (Silahturahmi) &
Menjunjung Tinggi Nilai Khasanah Budaya Melayu serta memperkenalkan
wisata alam hutan mangrove didaerah Meranti.Even ini di selenggarakan di
desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat.[3]
PENINGGALAN SEJARAH
Kelenteng Hoo Ann Kiong (lebih dikenal luas sebagai Vihara Sejahtera
Sakti/Tua Pek Kong Bio adalah kelenteng tertua yang ada di Selatpanjang,
dan juga merupakan Kelenteng Tertua di Provinsi Riau. Kelenteng ini
didirikan pada masa kolonial Belanda dan sampai hari ini belum diketahui
dengan pasti kapan berdirinya. Sejarawan memprediksi kelenteng ini
berumur lebih dari 150 tahun, setelah dilihat dari relief arsitektur
bangunannya. Kelenteng ini sangat dikenal luas oleh masyarakat
Selatpanjang maupun masyarakat luar negeri terutama bagi wisatawan dan
sebagai tempat ibadah umat budha.di Riau adalah satu antara pulau kecil
lainnya yang ada di Indonesia. Lebih dari 150 tahun silam, etnis
Tionghoa sudah berada di sana. Bangunan Klenteng di sana pun diyakini
tertua di Sumatera.Pulau Tebing Tinggi ini letaknya di Selat Malaka. Di
Pulau ini kini dijadikan pusat ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti
yakni, Selat Panjang. Kabupaten ini baru terbentuk dan belum genap
usianya 5 tahun. Dulunya Selat Panjang hanyalah ibukota kecamatan yang
berkiblat pada Kabupaten Bengkalis, di Riau.
Kota Selat Panjang tidaklah terlalu besar. Namun kota ini punya sejarah
panjang jauh sebelum kemerdekaan. Di perkirakan, pertengahan abad ke 19
atau sekitar tahun 1800-an, etnis Tionghoa dari daratan Cina sudah
merantau ke sana.Dulunya pulau itu hanya ada hutan belantara. Warga
Tionghoa menetap di sana dengan membuka usaha kayu, membabat hutan untuk
menanam karet, menanam sagu serta sayu-sayuran. Keberhasilan para
perantau awal ini, lantas disusul kemudian perantau lainnya. Mereka
sama-sama berada di pulau tersebut yang akhirnya kini banyak
keturunannya menyebar ke seluruh wilayah Nusantara.
Perdagangan tempo dulu, hasil pertaniannya dijual ke Singapura. Ini
karena letak goegrafis kepulauan ini sejajar dengan letak Singapura.
Keberhasil para etnis Tionghoa dalam berbisnis ini pada akhirnya
melahirkan Selat Panjang sebagai kota perdagangan dari dulu hingga
sekarang.Seiring pertumbuhan masyarakat Tionghoa kala itu, maka nenek
moyang mereka pun membangun tempat peribadatan yang dikenal dengan
sebutan keleteng bernama Hoo Ann Kiong (Vihara Sejahtra Sakti).
Sebenarnya, tidak ada yang tahu kapan persisnya bangunan tempat ibadah
itu berdiri.
Namun, masyarakat Tionghoa meyakini bangunan itu sudah ada sekitar tahun
1850-an. Kelenteng itu sempat beberapa kali pindah lokasi. Tapi,
sejumlah bangunan tua seperti tiang-tiang penyanggah pintu masuk tetap
dibawa kemanapun lokasi berpindah.Kini Klenteng itu berlokasidi Jl
Ayani, Selat Panjang, Ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti. Kelenteng itu
menghadap ke laut yang hanya berjarak sekitar 50 meter saja.Klenteng
warna merah dengan ornamik khas Cina itu, dihimpit bangunan ruko. Bagian
tempat peribadatan itu memang bukan lagi bentuk aslinya. Bila dilihat
sekarang, bangunan tempat pemujaan bagian dalam sudah sangat modern.
Ornamik khas ukiran Cina serta patung budha didatangkan langsung dari
negeri Tirai Bambu itu.Tak ada bedanya, kalau lokasi peribadatan itu
dengan Klenteng lainnya yang ada di Indonesia.
Peninggalan sejarah yang masih utuh sejak kelenteng itu adalah pintu
gerbang masuknya.Lantas apa uniknya? Pintu gerbang bercat merah,
termasuk tiang-tiangnya sekilas terlihat terbuat dari besi. Tapi
rupanya, tiang penyanggah genteng tersebut terbuat dari kayu yang
usianya sudah 150 tahun.Kayu itu penyanggah ukuran sedang sekitar
berdiameter 15-20 cm itu masih tegak lurus. Artinya, pintu gerbang untuk
memasuki ke dalam kawasan kelenteng masih merupakan peninggalan zaman
dulu,Tidak hanya tiang penyanggahnya saja yang dari kayu. Ada empat daun
pintu sebagai penutup juga masih terbuat dari papan. Tiang penyanggah
atapnya ternyata tidak menggunakan satu paku pun. Antara kayu ke kayu
yang lain hanya dipasang pasak saling mengikat. Di bagian ujung tiang ke
tiang lainnya selain menggunakan sekat juga dibalut dengan rotan.
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
SEJARAH KOTA
SELATPANJANG KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
Ainun Syarifatul Alfiah/SR
ASAL MULA KOTA SELATPANJANG
Daerah Selatpanjang dan sekitarnya sebelumnya merupakan wilayah
kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan salah satu
kesultanan terbesar di Riau saat itu.Pada masa pemerintahan Sultan Siak
VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (
yang bertahta tahun 1784 - 1810 ), biasa disapa Sultan Syarif Ali,
memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha untuk
mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain tertarik
pada pulau itu juga karena Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil
Syaifuddin Baalawi sendiri pernah singgah ke daerah itu, tujuan utama
Sultan Syarif Ali ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas (
Kalimantan Barat ) yang terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah
khianati perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Siak. Negeri atau
Bandar ini nantinya sebagai ujung tombak pertahanan ketiga setelah
Bukit Batu dan Merbau'' untuk menghadang penjajah dan lanun.
Maka bergeraklah armadanya dibawah pimpinan Panglima Besar Muda Tengku
Bagus Saiyid Thoha pada awal Muharram tahun 1805 Masehi diiringi
beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju
Pulau Tebing Tinggi. Mereka tiba di tebing Hutan Alai( sekarang Ibukota
Kecamatan Tebingtinggi Barat ).
Panglima itu segera menghujam kerisnya memberi salam pada Tanah
Alai.Tanah Alai tak menjawab, Ia meraup tanah sekepal, terasa panas. Ia
melepasnya, "Menurut sepanjang pengetahuan den, tanah Alai ini tidak
baik dibuat sebuah negeri karena tanah Hutan Alai adalah tanah jantan,
Baru bisa berkembang menjadi sebuah negeri dalam masa waktu yang lama,"
kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.
Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah
tebing yang tinggi. "Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan
Syarif Ali," pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan
tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan
mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi
salam. "Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den," katanya.
Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas
tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai
Selatpanjang ). Sambil berkata, "Dengarkanlah oleh kamu sekalian di
tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik didirikan sebuah negeri.
Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin
dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum
Allah."Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan,
laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. "Den bernama
Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri Indrapura. Keris
den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang den sosok ini den
namakan Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi."itulah nama asal
muasal kota selatpanjang.
Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana
panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat
Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa
pulau. Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan
sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi, seiring perkembangan
waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar
perniagaan di kesultanan siak.
Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan
pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama
negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu
Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun
1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung
Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak).
Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak
Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai
perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda
mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899,
Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar
Tebingtinggi Selatpanjang.J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi
mangkat pada tahun 1908. Seiring waktu masa diawal Pemerintahan Republik
Indonesia, kota selatpanjang dan sekitarnya ini merupakan Wilayah
Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status
menjadi Kecamatan Tebingtinggi. Pada tanggal 19 Desember 2008, daerah
Selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan
Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota
Selatpanjang.[1]
Kota SelatPanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan
Meranti, dahulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan
terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak.Bandar ini sejak dahulu
telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa,
karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan
kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian
antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan
dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan
sebaliknya.Selatpanjang juga merupakan kota yang menjadi transit
transportasi laut dari Pekanbaru menuju Pulau Batam atau Tanjung Balai
Karimun dan sebaliknya. selatpanjang juga merupakan kota penghasil sagu
yang cukup besar. Kabupaten Kepulauan Meranti adalah salah satu
kabupaten di provinsi Riau, Indonesia, dengan ibu kotanya adalah
Selatpanjang.
Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari Pulau Tebing Tinggi, Pulau
Padang, Pulau Merbau, Pulau Ransang, Pulau Topang, Pulau Manggung, Pulau
Panjang, Pulau Jadi, Pulau Setahun, Pulau Tiga, Pulau Baru, Pulau
Paning, Pulau Dedap,Pulau Berembang, Pulau Burung.Adapun nama Meranti
diambil dari nama gabungan "Pulau Merbau, Pulau Ransang dan Pulau
Tebingtinggi".[2]
NILAI BUDAYA
1. Pagelaran Seni Melayu Tari Zapin
Zapin merupakan hasanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dari
Arab. Tari Zapin pada mulanya merupakan tarian hiburan dikalangan
raja-raja di istana setelah dibawa oleh para pedagang-pedagang di awal
abad ke-16.Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus
menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair
lagu-lagu zapin yang didendangkan. Musik pengiringnya terdiri dari dua
alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik
tabuh gendang kecil yang disebut marwas.Tarian ini biasa ditarikan oleh
penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.
Pagelaran Seni ini biasa dilakukan pada hari hari tertentu yang dianggap
penting oleh masyarakat Selatpanjang seperti hari hari besar keagaamaan
ataupun dalam acara pernikahan.
2. Fiesta Bokor Riviera
Suatu Even untuk memperkuat tali Persaudaraan (Silahturahmi) &
Menjunjung Tinggi Nilai Khasanah Budaya Melayu serta memperkenalkan
wisata alam hutan mangrove didaerah Meranti.Even ini di selenggarakan di
desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat.[3]
PENINGGALAN SEJARAH
Kelenteng Hoo Ann Kiong (lebih dikenal luas sebagai Vihara Sejahtera
Sakti/Tua Pek Kong Bio adalah kelenteng tertua yang ada di Selatpanjang,
dan juga merupakan Kelenteng Tertua di Provinsi Riau. Kelenteng ini
didirikan pada masa kolonial Belanda dan sampai hari ini belum diketahui
dengan pasti kapan berdirinya. Sejarawan memprediksi kelenteng ini
berumur lebih dari 150 tahun, setelah dilihat dari relief arsitektur
bangunannya. Kelenteng ini sangat dikenal luas oleh masyarakat
Selatpanjang maupun masyarakat luar negeri terutama bagi wisatawan dan
sebagai tempat ibadah umat budha.di Riau adalah satu antara pulau kecil
lainnya yang ada di Indonesia. Lebih dari 150 tahun silam, etnis
Tionghoa sudah berada di sana. Bangunan Klenteng di sana pun diyakini
tertua di Sumatera.Pulau Tebing Tinggi ini letaknya di Selat Malaka. Di
Pulau ini kini dijadikan pusat ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti
yakni, Selat Panjang. Kabupaten ini baru terbentuk dan belum genap
usianya 5 tahun. Dulunya Selat Panjang hanyalah ibukota kecamatan yang
berkiblat pada Kabupaten Bengkalis, di Riau.
Kota Selat Panjang tidaklah terlalu besar. Namun kota ini punya sejarah
panjang jauh sebelum kemerdekaan. Di perkirakan, pertengahan abad ke 19
atau sekitar tahun 1800-an, etnis Tionghoa dari daratan Cina sudah
merantau ke sana.Dulunya pulau itu hanya ada hutan belantara. Warga
Tionghoa menetap di sana dengan membuka usaha kayu, membabat hutan untuk
menanam karet, menanam sagu serta sayu-sayuran. Keberhasilan para
perantau awal ini, lantas disusul kemudian perantau lainnya. Mereka
sama-sama berada di pulau tersebut yang akhirnya kini banyak
keturunannya menyebar ke seluruh wilayah Nusantara.
Perdagangan tempo dulu, hasil pertaniannya dijual ke Singapura. Ini
karena letak goegrafis kepulauan ini sejajar dengan letak Singapura.
Keberhasil para etnis Tionghoa dalam berbisnis ini pada akhirnya
melahirkan Selat Panjang sebagai kota perdagangan dari dulu hingga
sekarang.Seiring pertumbuhan masyarakat Tionghoa kala itu, maka nenek
moyang mereka pun membangun tempat peribadatan yang dikenal dengan
sebutan keleteng bernama Hoo Ann Kiong (Vihara Sejahtra Sakti).
Sebenarnya, tidak ada yang tahu kapan persisnya bangunan tempat ibadah
itu berdiri.
Namun, masyarakat Tionghoa meyakini bangunan itu sudah ada sekitar tahun
1850-an. Kelenteng itu sempat beberapa kali pindah lokasi. Tapi,
sejumlah bangunan tua seperti tiang-tiang penyanggah pintu masuk tetap
dibawa kemanapun lokasi berpindah.Kini Klenteng itu berlokasidi Jl
Ayani, Selat Panjang, Ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti. Kelenteng itu
menghadap ke laut yang hanya berjarak sekitar 50 meter saja.Klenteng
warna merah dengan ornamik khas Cina itu, dihimpit bangunan ruko. Bagian
tempat peribadatan itu memang bukan lagi bentuk aslinya. Bila dilihat
sekarang, bangunan tempat pemujaan bagian dalam sudah sangat modern.
Ornamik khas ukiran Cina serta patung budha didatangkan langsung dari
negeri Tirai Bambu itu.Tak ada bedanya, kalau lokasi peribadatan itu
dengan Klenteng lainnya yang ada di Indonesia.
Peninggalan sejarah yang masih utuh sejak kelenteng itu adalah pintu
gerbang masuknya.Lantas apa uniknya? Pintu gerbang bercat merah,
termasuk tiang-tiangnya sekilas terlihat terbuat dari besi. Tapi
rupanya, tiang penyanggah genteng tersebut terbuat dari kayu yang
usianya sudah 150 tahun.Kayu itu penyanggah ukuran sedang sekitar
berdiameter 15-20 cm itu masih tegak lurus. Artinya, pintu gerbang untuk
memasuki ke dalam kawasan kelenteng masih merupakan peninggalan zaman
dulu,Tidak hanya tiang penyanggahnya saja yang dari kayu. Ada empat daun
pintu sebagai penutup juga masih terbuat dari papan. Tiang penyanggah
atapnya ternyata tidak menggunakan satu paku pun. Antara kayu ke kayu
yang lain hanya dipasang pasak saling mengikat. Di bagian ujung tiang ke
tiang lainnya selain menggunakan sekat juga dibalut dengan rotan.
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
SEJARAH KOTA
SELATPANJANG KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
Ainun Syarifatul Alfiah/SR
ASAL MULA KOTA SELATPANJANG
Daerah Selatpanjang dan sekitarnya sebelumnya merupakan wilayah
kekuasaan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan salah satu
kesultanan terbesar di Riau saat itu.Pada masa pemerintahan Sultan Siak
VII yaitu Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi (
yang bertahta tahun 1784 - 1810 ), biasa disapa Sultan Syarif Ali,
memberi titah kepada Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha untuk
mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi. Selain tertarik
pada pulau itu juga karena Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil
Syaifuddin Baalawi sendiri pernah singgah ke daerah itu, tujuan utama
Sultan Syarif Ali ingin himpun kekuatan melawan kerajaan Sambas (
Kalimantan Barat ) yang terindikasi bersekutu dengan Belanda yang telah
khianati perjanjian setia dan mencuri mahkota Kerajaan Siak. Negeri atau
Bandar ini nantinya sebagai ujung tombak pertahanan ketiga setelah
Bukit Batu dan Merbau'' untuk menghadang penjajah dan lanun.
Maka bergeraklah armadanya dibawah pimpinan Panglima Besar Muda Tengku
Bagus Saiyid Thoha pada awal Muharram tahun 1805 Masehi diiringi
beberapa pembesar Kerajaan Siak, ratusan laskar dan hulu balang menuju
Pulau Tebing Tinggi. Mereka tiba di tebing Hutan Alai( sekarang Ibukota
Kecamatan Tebingtinggi Barat ).
Panglima itu segera menghujam kerisnya memberi salam pada Tanah
Alai.Tanah Alai tak menjawab, Ia meraup tanah sekepal, terasa panas. Ia
melepasnya, "Menurut sepanjang pengetahuan den, tanah Alai ini tidak
baik dibuat sebuah negeri karena tanah Hutan Alai adalah tanah jantan,
Baru bisa berkembang menjadi sebuah negeri dalam masa waktu yang lama,"
kata sang panglima dihadapan pembesar Siak dan anak buahnya.
Panglima bertolak menyusuri pantai pulau ini. Lalu, terlihat sebuah
tebing yang tinggi. "Inilah gerangan yang dimaksud oleh ayahanda Sultan
Syarif Ali," pikirnya. Armada merapat ke Tebing Tanah Tinggi bertepatan
tanggal 07 April 1805 Masehi. Di usia masih 25 tahun itu, dengan
mengucap bismillah Panglima melejit ke darat yang tinggi sambil memberi
salam. "Alha-mdulillah tanah tinggi ini menjawab salam den," katanya.
Tanah diraupnya, terasa sejuk dan nyaman. Ia tancapkan keris di atas
tanah (lokasinya sekarang kira-kira dekat komplek kantor Bea Cukai
Selatpanjang ). Sambil berkata, "Dengarkanlah oleh kamu sekalian di
tanah Hutan Tebing Tinggi inilah yang amat baik didirikan sebuah negeri.
Negeri ini nantinya akan berkembang aman dan makmur apabila pemimpin
dan penduduknya adil dan bekerja keras serta menaati hukum-hukum
Allah."Panglima itu berdiri tegak dihadapan semua pembesar kerajaan,
laskar, hulu balang, dan bathin-bathin sekitar pulau. "Den bernama
Tengku Bagus Saiyid Thoha Panglima Besar Muda Siak Sri Indrapura. Keris
den ini bernama Petir Terbuka Tabir Alam Negeri. Yang den sosok ini den
namakan Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi."itulah nama asal
muasal kota selatpanjang.
Setelah menebas hutan, membuka wilayah kekuasaan, berdirilah istana
panglima besar itu. Pada 1810 Masehi Sultan Syarif Ali mengangkat
Panglima Besar Muda Tengku Bagus Saiyid Thoha itu sebagai penguasa
pulau. Kala itu, sebelah timur negeri berbatasan dengan Sungai Suir dan
sebelah barat berbatasan dengan Sungai Perumbi, seiring perkembangan
waktu bandar ini semakin ramai dan bertumbuh sebagai salah satu bandar
perniagaan di kesultanan siak.
Ramai interaksi perdagangan didaerah pesisir Riau inilah menyebabkan
pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama
negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu
Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun
1880, pemerintahan di Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi dikuasai oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung
Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak).
Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak
Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai
perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda
mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh
J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama pada tanggal 4 September 1899,
Negeri Makmur Kencana Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar
Tebingtinggi Selatpanjang.J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi
mangkat pada tahun 1908. Seiring waktu masa diawal Pemerintahan Republik
Indonesia, kota selatpanjang dan sekitarnya ini merupakan Wilayah
Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status
menjadi Kecamatan Tebingtinggi. Pada tanggal 19 Desember 2008, daerah
Selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan
Meranti memekarkan diri dari Kabupaten bengkalis dengan ibukota
Selatpanjang.[1]
Kota SelatPanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan
Meranti, dahulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan
terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak.Bandar ini sejak dahulu
telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa,
karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan
kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian
antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan
dan lalu lintas barang barang maupun manusia dari China ke nusantara dan
sebaliknya.Selatpanjang juga merupakan kota yang menjadi transit
transportasi laut dari Pekanbaru menuju Pulau Batam atau Tanjung Balai
Karimun dan sebaliknya. selatpanjang juga merupakan kota penghasil sagu
yang cukup besar. Kabupaten Kepulauan Meranti adalah salah satu
kabupaten di provinsi Riau, Indonesia, dengan ibu kotanya adalah
Selatpanjang.
Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari Pulau Tebing Tinggi, Pulau
Padang, Pulau Merbau, Pulau Ransang, Pulau Topang, Pulau Manggung, Pulau
Panjang, Pulau Jadi, Pulau Setahun, Pulau Tiga, Pulau Baru, Pulau
Paning, Pulau Dedap,Pulau Berembang, Pulau Burung.Adapun nama Meranti
diambil dari nama gabungan "Pulau Merbau, Pulau Ransang dan Pulau
Tebingtinggi".[2]
NILAI BUDAYA
1. Pagelaran Seni Melayu Tari Zapin
Zapin merupakan hasanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dari
Arab. Tari Zapin pada mulanya merupakan tarian hiburan dikalangan
raja-raja di istana setelah dibawa oleh para pedagang-pedagang di awal
abad ke-16.Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus
menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair
lagu-lagu zapin yang didendangkan. Musik pengiringnya terdiri dari dua
alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik
tabuh gendang kecil yang disebut marwas.Tarian ini biasa ditarikan oleh
penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.
Pagelaran Seni ini biasa dilakukan pada hari hari tertentu yang dianggap
penting oleh masyarakat Selatpanjang seperti hari hari besar keagaamaan
ataupun dalam acara pernikahan.
2. Fiesta Bokor Riviera
Suatu Even untuk memperkuat tali Persaudaraan (Silahturahmi) &
Menjunjung Tinggi Nilai Khasanah Budaya Melayu serta memperkenalkan
wisata alam hutan mangrove didaerah Meranti.Even ini di selenggarakan di
desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat.[3]
PENINGGALAN SEJARAH
Kelenteng Hoo Ann Kiong (lebih dikenal luas sebagai Vihara Sejahtera
Sakti/Tua Pek Kong Bio adalah kelenteng tertua yang ada di Selatpanjang,
dan juga merupakan Kelenteng Tertua di Provinsi Riau. Kelenteng ini
didirikan pada masa kolonial Belanda dan sampai hari ini belum diketahui
dengan pasti kapan berdirinya. Sejarawan memprediksi kelenteng ini
berumur lebih dari 150 tahun, setelah dilihat dari relief arsitektur
bangunannya. Kelenteng ini sangat dikenal luas oleh masyarakat
Selatpanjang maupun masyarakat luar negeri terutama bagi wisatawan dan
sebagai tempat ibadah umat budha.di Riau adalah satu antara pulau kecil
lainnya yang ada di Indonesia. Lebih dari 150 tahun silam, etnis
Tionghoa sudah berada di sana. Bangunan Klenteng di sana pun diyakini
tertua di Sumatera.Pulau Tebing Tinggi ini letaknya di Selat Malaka. Di
Pulau ini kini dijadikan pusat ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti
yakni, Selat Panjang. Kabupaten ini baru terbentuk dan belum genap
usianya 5 tahun. Dulunya Selat Panjang hanyalah ibukota kecamatan yang
berkiblat pada Kabupaten Bengkalis, di Riau.
Kota Selat Panjang tidaklah terlalu besar. Namun kota ini punya sejarah
panjang jauh sebelum kemerdekaan. Di perkirakan, pertengahan abad ke 19
atau sekitar tahun 1800-an, etnis Tionghoa dari daratan Cina sudah
merantau ke sana.Dulunya pulau itu hanya ada hutan belantara. Warga
Tionghoa menetap di sana dengan membuka usaha kayu, membabat hutan untuk
menanam karet, menanam sagu serta sayu-sayuran. Keberhasilan para
perantau awal ini, lantas disusul kemudian perantau lainnya. Mereka
sama-sama berada di pulau tersebut yang akhirnya kini banyak
keturunannya menyebar ke seluruh wilayah Nusantara.
Perdagangan tempo dulu, hasil pertaniannya dijual ke Singapura. Ini
karena letak goegrafis kepulauan ini sejajar dengan letak Singapura.
Keberhasil para etnis Tionghoa dalam berbisnis ini pada akhirnya
melahirkan Selat Panjang sebagai kota perdagangan dari dulu hingga
sekarang.Seiring pertumbuhan masyarakat Tionghoa kala itu, maka nenek
moyang mereka pun membangun tempat peribadatan yang dikenal dengan
sebutan keleteng bernama Hoo Ann Kiong (Vihara Sejahtra Sakti).
Sebenarnya, tidak ada yang tahu kapan persisnya bangunan tempat ibadah
itu berdiri.
Namun, masyarakat Tionghoa meyakini bangunan itu sudah ada sekitar tahun
1850-an. Kelenteng itu sempat beberapa kali pindah lokasi. Tapi,
sejumlah bangunan tua seperti tiang-tiang penyanggah pintu masuk tetap
dibawa kemanapun lokasi berpindah.Kini Klenteng itu berlokasidi Jl
Ayani, Selat Panjang, Ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti. Kelenteng itu
menghadap ke laut yang hanya berjarak sekitar 50 meter saja.Klenteng
warna merah dengan ornamik khas Cina itu, dihimpit bangunan ruko. Bagian
tempat peribadatan itu memang bukan lagi bentuk aslinya. Bila dilihat
sekarang, bangunan tempat pemujaan bagian dalam sudah sangat modern.
Ornamik khas ukiran Cina serta patung budha didatangkan langsung dari
negeri Tirai Bambu itu.Tak ada bedanya, kalau lokasi peribadatan itu
dengan Klenteng lainnya yang ada di Indonesia.
Peninggalan sejarah yang masih utuh sejak kelenteng itu adalah pintu
gerbang masuknya.Lantas apa uniknya? Pintu gerbang bercat merah,
termasuk tiang-tiangnya sekilas terlihat terbuat dari besi. Tapi
rupanya, tiang penyanggah genteng tersebut terbuat dari kayu yang
usianya sudah 150 tahun.Kayu itu penyanggah ukuran sedang sekitar
berdiameter 15-20 cm itu masih tegak lurus. Artinya, pintu gerbang untuk
memasuki ke dalam kawasan kelenteng masih merupakan peninggalan zaman
dulu,Tidak hanya tiang penyanggahnya saja yang dari kayu. Ada empat daun
pintu sebagai penutup juga masih terbuat dari papan. Tiang penyanggah
atapnya ternyata tidak menggunakan satu paku pun. Antara kayu ke kayu
yang lain hanya dipasang pasak saling mengikat. Di bagian ujung tiang ke
tiang lainnya selain menggunakan sekat juga dibalut dengan rotan.
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
Invested $100 in Cryptocurrencies in 2017...You would now have $524,215: https://goo.gl/efW8Ef
Good
BalasHapus